Contoh Autobiografi
Nama saya Ni Wayan Etik Septi Virgianthi, nama panggilan saya Etik. Saya lahir di Denpasar, 17 September 1998, saya anak sulung dari dua bersaudara. Saya dengan adik saya hanya selisih 4 tahun, ia bernama I Kadek Eduk Trantika Prapta. Ayah saya I Nyoman Superapta dan Ibu saya Ni Ketut Kandri. Saat ini saya tinggal di Kota Denpasar tepatnya di Jalan Pulau Saelus No. 60, Br. Karang Suwung, Desa Pedungan.
Tahun ajaran 2003/2004, saya mulai memasuki bangku sekolah dasar. Saat itu saya bersekolah di SD Negeri 7 Pedungan. Saat saya kelas I sampai IV saya selalu diantar oleh Ibu ke sekolah dan sering saya pulang dengan berjalan kaki dari sekolah sampai rumah, karena kesibukkan orang tua dalam bekerja. Untungnya jarak dari sekolah ke rumah saya tidak terlalu jauh. Pada saat saya kelas V saya dibelikan sepeda berwarna merah yang berisi keranjang di depannya oleh ayah, mulai saat itu saya pergi ke sekolah dengan menggunakan sepeda. Waktu saya SD saya sering tidak membuat PR karena pada masa itu saya hanya memikirkan bermain, bermain, dan bermain. Apalagi saat itu saya disibukkan dengan latihan nari di Banjar tempat saya tinggal, sebagai orang bali saya ingin melestarikan budaya bali. Menginjak kelas VI saya memutuskan untuk berhenti menari, karena saya akan di sibukkan dengan berbagai Ujian dan Les tambahan. Semenjak itu saya mulai mengerti apa pentingnya pendidikan untuk masa depan. Saya mulai serius belajar dan berusaha untuk mengerti pelajaran yang diberikan oleh guru saya yang tercinta. Usaha dan kerja keras saya selama dua semester itu tidak sia-sia, tahun ajaran 2009/2010 saya Lulus. Setelah itu, saya melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu bangku Sekolah Menengah Pertama.
Tahun ajaran 2010/2011, saya bersekolah di SMP Ganesha Denpasar, selam tiga tahun saya berangkat menuju sekolah masih dengan menggunakan sepeda gayung. Pada masa itu banyak pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan. Pertama, kelas VII pertama kalinya saya mendapatkan ranking 3 besar mengalahkan 43 siswa. Kedua, saya pernah mengalami kesialan dan itu sangat merugikan diri saya sendiri, yaitu pada saat ulangan harian Pkn teman disamping saya meminta jawaban ke saya dan bodohnya saya, saya memberikan kertas jawaban saya ke teman saya. Tiba-tiba guru saya langsung mengarah ke bangku teman yang saya berikan jawaban, seketika guru pun mengambil kertas jawaban saya. Semenjak itu teman saya merasa bersalah dan untuk menebus kesalahannya ia lantas memberikan ku minuman dan makanan saat jam istirahat, lumayanlah untuk hemat uang jajan walaupun sehari. Ketiga, kelas IX saya mulai menyukai teman sekelas saya yang bernama Argham. Ia selalu mendapatkan juara umum 2 di sekolah dan itu membuat saya kagum dengannya. Perasaan itu membuat saya untuk termotivasi dalam belajar. Ternyata cara itu ampuh, saya menjadi ingin mengalahkannya walaupun tidak bisa dan tahun ajaran 2012/2013 saya Lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. Itulah sedikit pengalaman saya semenjak duduk dibangku SMP.
Selanjutnya, saya menginjak ke jenjang yang lebih tinggi lagi yaitu masa putih abu-abu. Dimana kebanyakan orang menyebutnya “Masa Yang Paling Indah”. Saya memilih untuk masuk SMK dibandingkan SMA, karena saya ingin setelah tamat dari SMK saya dapat bekerja untuk membantu ekonomi keluarga sekaligus membahagiakan orang tua. Tahun ajaran 2013/2014 saya bersekolah di SMK Negeri 2 Denpasar sampai saat ini, di sekolah ini saya memilih Jurusan Akuntansi. Sekarang saya tidak lagi berangkat menggunakan sepeda gayung tetapi menggunakan sepeda motor, walau umur saya saat itu masih di bawah 17 tahun. Sebenarnya, alasan saya memilih bersekolah di SMK N 2 Denpasar ialah Pertama, jarak dari rumah ke sekolah tidak begitu jauh, karena saya sedikit malas untuk bangun pagi. Kedua, karena sekolah ini beridentitas Negeri lalu saya berpikir orang tua saya tidak akan terlalu banyak mengeluarkan biaya. Tahun itu sampai dengan sekarang dimulainya kurikulum baru yaitu Kurikulum 2013. Kurikulum ini membuat saya lebih banyak diluar dibandingkan di rumah. Karena, kurikulum ini menganjurkan agar siswa lebih aktif dibandingkan guru pengajar untuk memahami, mengamati, dan mempresentasikan sendiri materi pelajarannya. Apalagi di kurikulum ini saya dituntut untuk belajar lebih banyak di dunia internet. Pada saat itu, saya bisa di bilang Gaptek (gagap teknologi) karena di rumah teknologi yang paling canggih hanya Handphone dan saya tidak pernah memasuki yang namanya Warnet. Walau waktu SD dan SMP pernah diajarkan mengaplikasikan sebuah komputer, tetap saja saya tidak mengerti. Mulai saat itu saya belajar mengotak-atik laptop baru saya yang dibelikan oleh ayah tahun 2013. Dan saya juga tidak malu bertanya kepada teman di sekolah jika mengalami kesulitan dalam menggunakan laptop itu. Dan akhirnya, saya sekarang dapat membuat berbagai tugas dengan menggunakan laptop.
Saat ini saya duduk di bangku kelas XI masih dengan jurusan akuntansi. Dalam waktu dekat ini saya dihadapkan dengan Ulangan Semester Ganjil, dan mudah-mudahan hasilnya tidak mengecewakan. Astungkara. Harapan saya tidak akan terkabul tanpa restu dari orang-orang yang saya sayangi, yang utama adalah kedua orang tua saya, lalu saudara, guru dan teman-teman saya yang senantiasa berbagi cerita dengan saya. Dan yang utama dari yang utama adalah Ida Sang Hyang Widhi Wasa, tanpaNYA aku bukan siapa-siapa.
Terima kasih yang tak terhingga untuk Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang selalu mengajarkanku dari sebuah kesalahan dan pengalaman.
Terima kasih juga sebanyak-banyaknya untuk kedua orang tua saya yang selalu mendukung dan mengajariku arti sebuah kehidupan. Terima kasih juga untuk guru-guru yang telah mengajariku dari aku tidak tahu menjadi tahu. Dan teman-teman yang selalu ada dalam suka maupun duka. Sebagai penutup, satu kutipan favorite saya “Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yang salah, dan teruslah melangkah”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar