Selasa, 12 Desember 2023

Cerpen "Angkasa dan Pertiwi"

                      ANGKASA DAN PERTIWI

Bagi perempuan yang selalu gagal dalam percintaannya, dia pasti berharap pria yang bersamanya saat ini adalah pria yang akan menjadi suaminya kelak. Sama halnya dengan pemikiran Pertiwi saat ini, diusianya yang telah menginjak 25 tahun bukan waktunya lagi untuk Pertiwi bermain-main dalam hubungan percintaan. Dia sangat optimis pada kekasihnya yang ditemuinya 2 tahun lalu. Namanya Angkasa. Pria yang umurnya lebih muda 3 tahun dengan Pertiwi.

Awal mereka bertemu di sebuah Toko Roti dengan merk Delicious Bakery milik keluarganya Angkasa, dimana saat itu Angkasa diminta oleh Ibunya untuk membantu melayani customer yang ingin membeli Roti. Pada saat itu, Pertiwi hendak membeli Roti kesukaannya yaitu Roti abon yang didalamnya berisi sosis ayam. Pertama kali Angkasa melihat Pertiwi, ia telah jatuh hati pada pandangan pertama. Pertiwi yang saat itu penampilannya hanya memakai kemeja berwarna pink dengan bawahan rok hitam tanpa sentuhan make up yang mencolok berhasil membuat Angkasa terpana. Kesederhanaan dari diri Pertiwi membuat Angkasa tertarik untuk mengenal Pertiwi lebih jauh.

Pertiwi adalah seorang pegawai kantoran di perusahaan jasa keuangan yang berada tidak jauh di dekat Delicious Bakery milik keluarga Angkasa. Pertiwi setiap pagi selalu mampir ke Delicious Bakery hanya untuk membeli roti abon kesukaannya, sehigga membuat Angkasa semakin penasaran dan memberanikan diri untuk basa-basi menanyakan nama, pekerjaan dan tempat kerja Pertiwi, tidak lupa juga ia meminta nomor handphone Pertiwi. 

“Angkasa, tepat hari ini hubungan kita sudah 2 tahun, aku masih ingat setiap aku datang ke tokomu, kamu sudah membungkuskan roti abon untukku, padahal aku belum memesannya.” ucap Pertiwi sambil bersandar dibahu Angkasa.

“Aku tahu kamu pasti akan membeli itu, bahkan aku selalu menyisihkan roti abon untukmu sayang.” ucap Angkasa sambil mengelus rambut Pertiwi.

“Terima kasih sayang sampai saat ini kamu masih tetap bersamaku, i love you.” ucap Pertiwi lalu mencium pipi Angkasa.

“I love you too, sayang.” ucap Angkasa dengan membalas kecupan ke kening Pertiwi.

“Jadi, sampai kapan kita sembunyikan hubungan ini dari keluargamu.” lanjut Pertiwi.

“Sabar ya sayang, pasti aku akan kenalkan kamu ke mereka.” balas Angkasa.

Hubungan Angkasa dan Pertiwi memang masih backstreet dari keluarga Angkasa, orang tua Angkasa menginginkan anaknya untuk fokus kerja membantu usaha Toko Roti (Delicious Bakery) bahkan meminta Angkasa untuk ikut pelatihan membuat roti ke Luar Negeri. Pertiwi pun memaklumi keputusan yang diambil Angkasa dan akan selalu mendukung apa pun yang Angkasa lakukan.

Angkasa sebenarnya tidak menyukai pekerjaan yang berbau masak-memasak karena baginya pekerjaan itu lebih cocok dilakukan oleh seorang wanita, Angkasa lebih menyukai bermain musik drum bersama band yang ia bentuk saat SMA. Akan tetapi, orang tua Angkasa tidak menyukai hobi drumnya itu. Pertiwi pun mengetahui hal itu, karena setiap kali Angkasa selesai membantu Ibunya menjaga toko, ia mengeluhkan hal itu kepada Pertiwi lewat telepon. Pertiwi mencoba memberinya saran agar orang tua Angkasa bisa mendukung hobinya tersebut, tetapi Angkasa selalu membantah saran dari Pertiwi ia selalu berpikir bahwa pilihan orang tua terhadapnya memang itu yang terbaik.

Pertiwi yang merupakan seorang yang tahu apa yang disuka dan selalu memperjuangkan untuk mendapatkan apa yang disuka sangat berbanding terbalik dengan Angkasa yang selalu menurut dengan apa yang diminta oleh orang tuanya demi membuat orang tuanya bahagia.

Malam minggu, mereka kembali makan bersama di sebuah mall tengah kota. Mereka pun kembali berbincang mengenai bagaimana kelanjutan hubungan mereka kedepan.

“Sayang, bulan depan aku sudah harus pergi ke Perancis untuk belajar buat roti, kamu tidak apa?.” ucap Angkasa.

“Berapa lama sayang? aku belum siap kita LDR” jawab Pertiwi.

“Hanya 6 bulan yang, sebelum aku pergi, kamu akan ku kenalkan ke orang tua ku. Agar setelah aku pulang nanti, kita bisa rencanakan pernikahan kita.” ucap Angkasa berusaha menenangkan kekhawatiran Pertiwi.

“Janji?” ucap Pertiwi penuh harap.

“Janji sayang, besok aku bawa kamu ke rumah” tegas Angkasa.

Keesokan harinya, Angkasa menempati janjinya untuk membawa Pertiwi ke rumah untuk meminta restu mengenai hubungan mereka.

“Bapak, Ibu. Ini Pertiwi pacar Angkasa. Kami ingin minta restu setelah Angkasa selesai pelatihan di Perancis, Angkasa mau menikah dengan Pertiwi, Pak Bu.” ucap Angkasa sambil menggenggam tangan Pertiwi.

Bapak dan Ibunya Angkasa pun terkejut dengan pernyataan anaknya, lalu Ibu Angkasa berdiri dan memberikan penolakan.

“TIDAK, Ibu tidak setuju kamu dengan Pertiwi. Ibu bilang fokus dulu dengan pelatihanmu itu, nanti urusan pasangan Ibu dan Bapak akan carikan kamu.” ucap Ibu Angkasa dengan lantang.

“Tapi maaf Tante, kami berdua sudah saling cinta. Saya tidak akan mengganggu Angkasa saat pelatihannya nanti Tante.” ucap Pertiwi.

“Kalian putus saja biar nanti Angkasa bisa fokus dengan pelatihannya.” sambung Ibu Angkasa.

“Bapak setuju dengan perkataan Ibumu nak.” ucap Bapak Angkasa.

Angkasa tidak bisa berkata-kata apalagi. Ia langsung menarik tangan Pertiwi untuk ikut pergi dari Rumahnya.

“Sayang, kamu harus yakinkan Bapak dan Ibu kalau kita bisa bersama. Ayo. Kita coba lagi” ucap Pertiwi.

“Gak bisa yang, kita sampai sini dulu ya?” ucap Angkasa dengan pasrah.

“Maksud kamu?” ucap Pertiwi yang mulai meneteskan air matanya.

“Kita putus saja, mungkin ini yang terbaik untuk hubungan kita wik” ucap Angkasa.

“Enggak sayang, kita masih bisa yakinin orang tua mu, aku yakin kita bisa sa.” ucap Pertiwi yang mencoba meyakinkan Angkasa.

“Mau gimana lagi wik? Mungkin memang benar aku harus fokus ke mimpi ku dulu ke Perancis wik, kamu mengerti kan?” ucap Angkasa.

“MIMPI? MIMPIMU atau MIMPI ORANG TUAMU SA?” ucap Pertiwi penuh emosi.

Angkasa hanya terdiam.

“Mau sampai kapan sa, kamu harus mengikuti kata orang tuamu? Kamu gak mikir kebahagiaan dirimu sendiri hah?” lanjut Pertiwi.

“Wik, itu orang tua ku  sampai kapan pun mereka orang tua ku wik, kalau orang tua ku bahagia, aku juga bahagia. Ini demi kebaikan kita wik” balas Angkasa.

“Iya, aku paham. Terus, gimana dengan kita? Kamu bahagia kan sama aku?” ucap Pertiwi dengan tangis.

“Aku bahagia wik bisa bersama kamu, aku bahagia. Aku sayang kamu wik, tapi aku harus apa?. Mungkin ini yang terbaik buat hubungan kita wik.” ucap Angkasa sambil memeluk Pertiwi.

“Aku kecewa sa, kalau itu mau mu. Oke. Kita putus.” ucap Pertiwi lalu pergi meninggalkan Angkasa.

“Wiikk, aarrrgghh...” ucap Angkasa sambil berteriak.

Mereka akhirnya memilih untuk berpisah. Angkasa tak mampu memperjuangkan cintanya dengan Pertiwi. Baginya berbakti kepada orang tua adalah hal utama walau harus merelekan cintanya. Lalu, bagaimana dengan Pertiwi? apa itu adil buatnya? cinta yang telah mereka bangun sia-sia hanya karena tidak mendapatkan restu dari orang tua Angkasa. Cinta yang harus diperjuangkan bersama, nyatanya tak dapat dimiliki selamanya. Bagai Langit dan Bumi, begitu pun dengan kisah Angkasa dan Pertiwi yang memiliki karakter yang berbeda dan tidak bisa bersatu.


Cerpen Karangan : Etik Septi Virgianthi

Kamis, 27 Juli 2023

Cerpen "Di Balik Jendela"

                         DI BALIK JENDELA

Pertama kali aku melihatmu, sungguh aku seperti memahami apa yang kamu rasa saat itu. Kamu yang selalu mencoba kuat dan mencoba meyakinkan orang-orang disekitarmu bahwa kamu bisa diandalkan dan dipercaya. Itulah yang membuatku penasaran, siapa kamu?

Aku terus memperhatikanmu di balik jendela, aku ingin sekali menyapamu dan bertanya siapa namamu, tapi aku tidak bisa, sekali lagi aku tidak bisa. Entah kenapa, seakan aku menjadi seorang yang bisu, tidak tahu kata apa yang harus aku ucapkan untuk menyapamu.

Aku suka melihat kamu menyapu di depan rumah, aku suka melihat kamu pergi keluar dengan motormu, aku suka mendengar suaramu bercengkrama saat bersama keluarga atau teman-temanmu dan aku suka saat kamu sedang mengelus anjing peliharaanmu. Aku suka karena pada saat itulah aku bisa melihatmu walau sebentar.

Beruntung tempatku bekerja berada tepat di depan rumahmu, jadi saat aku suntuk dan penat, kamu bagaikan lukisan indah yang membuat hatiku tenang. Aku mulai merasa nyaman disini, ternyata tempat yang sunyi dan hening jauh dari kebisingan suara kendaraan yang berlalu-lalang tidak terlalu buruk buatku.

Untuk pertama kalinya, aku membenci saat aku libur kerja. Ya, sepertinya jiwa pekerja kerasku mulai bangkit lebih tepatnya bekerja keras untuk mencari tahu siapa namamu? hehe. Candu. Aku rasa, aku sudah mulai gila. Sebegitunya memikirkan kamu yang padahal kamu saja tidak tahu ada aku di sana.

Suatu hari, aku ingin sekali makan lumpia ditengah-tengah jam makan siangku. Aku mencoba keluar pintu berharap dagang lumpia keliling lewat. Lalu, terdengar suara motor dari kejauhan. “Semoga itu dagang lumpia” ucapku dalam hati. Saat suara motor itu mulai mendekat. Ternyata bukan dagang lumpia yang lewat tapi kamu, orang yang selama ini aku perhatikan di balik jendela. Kamu melihatku, akhirnya kamu melihatku. Mata kita saling bertemu. Tapi, tetap saja aku tidak bisa menyapamu, tersenyum pun susah buatku, cepat-cepat aku kembali bekerja karena pipiku mulai memerah karena salting. Walaupun aku tidak bisa makan lumpia pada saat itu, setidaknya kamu tahu ada aku.

Hari-hari berikutnya aku mulai mencoba berani menyapamu dari jauh dengan cara melambai-lambaikan tanganku agar kamu berpindah pandangan ke arahku, tapi kamu tidak lihat. Sedih. Aku coba lagi berkali-kali. Akhirnya kamu melihatku, langsung saja aku tulis sebuah kalimat dikertas HVS yang bertuliskan “Siapa nama kamu?” dan dengan semangatnya aku mengakat kertas itu agar kamu membacanya. Lalu kamu bilang pakai bahasa isyarat “Aku tidak bisa baca tulisan itu, kamu keluar saja dulu”. Aku menuliskan ulang dengan membesarkan ukuran tulisanku dan menebalkannya agar kamu bisa membacanya. Tapi, lagi-lagi kamu memberi isyarat kalau tulisanku tidak terbaca dan menyuruhku untuk keluar sebentar. Sayangnya, ada bosku datang, jadi aku tidak bisa keluar untuk menanyakan namamu secara langsung. Kejadian saat itu sangat unik buatku, karena komunikasi kita pakai bahasa isyarat.

18 Januari 2023, tanggal ini mungkin kamu tidak ingat apa yang terjadi tapi aku masih menyimpan kenangan itu diarsip story ig ku. Pada tanggal itu kamu sedang membeli es krim di depan rumahmu, ketika itu aku spontan ingin es krim juga, dan kamu pun menawarkanku “mau beli juga?” katamu. Saat itu aku mencoba untuk tetap terlihat tenang padahal aslinya sudah salting gak karuan. Aku pun membalas “Iya, berapa harga es krimya?”, lalu kamu hanya menunjukan 2 jari yang artinya dua ribu rupiah. Aku pun bergegas mengambil uang dan langsung keluar untuk membeli es krim juga. Tapi saat aku hendak membayar es krimku, ternyata kamu sudah membayarkannya. “Terima kasih yaa” kataku. Aku pun segera pergi ke ruang kerja, saking gugupnya tidak ada kata basa-basi yang terlintas dibenakku, padahal kamu berada sedekat itu denganku. Aku sangat senang hari itu. Aku bisa melihat senyum lebarmu yang manis.

Saat aku pulang kerja kamu menyuruhku untuk tunggu kamu di warung depan pertigaan jalan, kemudian aku pun ke warung itu dan kamu menyusul aku. Sungguh aku deg-degan saat itu, aku berusaha tenang agar tidak terlihat salting didepannmu. Kita saling bersalaman dan kamu berkata “namamu siapa?”. Aku pun menjawab “Karin”. Lalu, aku juga menanyakan hal yang sama “kalau nama kamu siapa?”. Kamu menjawab “Defra”. Setelah perkenalan itu kamu meminta nomor ponselku. Tanpa pikir panjang, aku pun memberitahumu nomor ponselku. Akhirnya sejak saat itu, aku tahu nama mu. Aku pulang dengan wajah yang penuh dengan bunga-bunga. Bahagia sekali rasanya. Aku tidak henti-hentinya tersenyum di hari itu. 

Hari demi hari kita jadi makin dekat, dan resmi pacaran. Kita saling berbagi cerita masa lalu, keseharian sampai hal-hal yang ingin kita capai di masa depan. Hubungan kita terlihat baik-baik saja walaupun pasti ada cek-coknya sedikit. Tapi makin lama kita terlihat sangat berbeda. Kita mulai menyadari cara memandang dunia kita berbeda yang sulit untuk disatukan. Ego kita sama-sama kuat. Semakin kita saling ingin memiliki, semakin kita saling menyakiti satu sama lain. Kita masih belum bisa mengendalikan diri kita masing-masing. Rasa sayang yang terlalu kuat hampir membuat kita hilang arah. Satu-satunya jalan agar kita bisa saling mengerti kembali tentang diri sendiri adalah berpisah. Kita sepakat untuk putus. 

Jujur, aku sedih dengan kenyataan ini. Nafsu makanku mulai menurun, aku mencoba mencari kesibukan dan hiburan agar aku bisa menerima keadaan kita yang tidak bisa bersama. Perlahan-lahan aku mencoba ikhlas, walau kita tidak bisa bersama setidaknya aku masih bisa melihatmu baik-baik saja di balik jendela.

I Love You,  semoga kita bisa menemukan sosok terbaik yang buat kita lebih memahami diri sendiri. 


Cerpen Karangan : Etik Septi Virgianthi

Minggu, 14 Mei 2023

Cerpen "Kepiting dan Kura-kura"

                KEPITING DAN KURA-KURA

Di tengah-tengah derasnya suara ombak yang mengguyur bebatuan yang ada di tepi laut, perlahan terdengar suara merintih kesakitan dari balik batu besar. Suara itu semakin jelas berkata “Toloonggg, tolong aku. Kaki ku terjepit di batu besar ini”. Kura-kura yang sedang kebingungan mencari temannya yang hilang pun lantas menyusuri siapa pemilik suara itu, dia bergumam dalam hati “Temanku, apakah itu kamu? tunggu aku, aku akan menolongmu”. Dengan langkah yang terengah-engah kura-kura pun menuju ke batu besar itu. Sampailah ia di batu besar, dan terlihat di balik batu besar itu bukan teman yang ia cari melainkan seekor Kepiting.

“Hai Kura-kura yang manis, apakah kamu bisa menolongku? Kaki ku terjepit, sakit sekali. Tolong geserkan batu ini dari ku” kata kepiting.

Kura-kura tidak mau menolong kepiting, karena dia takut akan dicapit oleh kepiting. Namun, Kepiting itu berkali-kali meyakinkan kura-kura kalau dia tidak akan mencapit dirinya. “Lihatlah aku, aku di sini kesakitan mana mungkin akan mencapitmu. Kenapa kamu tidak percaya denganku? Aku butuh pertolonganmu. Hanya kamu yang bisa bantu aku, kura-kura”.

Di sini kura-kura mulai bimbang dan mempertanyakan pikirannya sendiri “Hem, kasihan juga ya. Pasti kakinya sakit sekali ditindih batu besar itu. Baiklah, aku bantu dia saja”.

Akhirnya kura-kura itu membantu kepiting tersebut. Kura-kura mencoba mendorong batu besar itu dengan seluruh tenaga yang ia punya. Batu besar itu pun berhasil ia geser, dan akhirnya kepiting pun bebas.

“Kura-kura kamu sungguh hebat, kamu sangat kuat dapat menggeser batu besar itu. Bisakah kamu menolongku sekali lagi? kaki ku masih terasa sakit, tolong antarkan aku ke laut sana, sebentar saja” kata kepiting

“Baiklah kepiting, naiklah ke tempurungku. Akan aku antarkan kamu ke laut” kata kura-kura yang terlihat mulai kelelahan tapi berusaha tetap kuat

Sesampainya mereka di lautan, tiba-tiba saja kepiting mencapit kaki kura-kura yang sudah menolongnya. Kura-kura pun terkejut dan menangis.

“Mengapa kamu melakukan itu, kepiting? Bukankah aku sudah menolong kamu dengan baik”

Kepiting itu hanya mempemperhatikan kura-kura yang menjerit kesakitan dan kemudian berkata “Kamu harusnya tahu aku ini Kepiting. Aku memiliki capit yang kuat dan tajam. Maka, berhati-hatilah denganku. Pergi sana, dasar kura-kura pemalas. Karena jalanmu sungguh lambat kaki ku jadi terasa sangat sakit diperjalanan. Kamu juga harus merasakan sakit yang aku rasa!”

Kura-kura pun pergi dengan kaki yang kesakitan. Lalu, dalam tangisannya ada yang memanggil-manggil dirinya dari kejauhan. Kura-kura pun mulai mempertajam pandangan matanya ke arah sosok tersebut. Ya, terlihat jelas itu Teman Kura-kura yang ia cari-cari selama ini. Temannya pun menghampiri kura-kura yang nampak bersedih.

“Hei, kamu kenapa? kok nangis?”

“Teman, tadi aku menolong kepiting yang kakinya ditindih batu besar dan mengantarkan dia ke laut tapi dia malah mencapit kaki ku setelah aku tolong, berkata terima kasih kepada ku pun tidak. Aku sakit dan sedih sekali”

“Sudah, kamu jangan bersedih. Kepiting itu tidak pantas ditangisi, biarkanlah hidupnya dipenuhi oleh kesombongan maka ia akan hancur dengan sendirinya. Oh iya, aku nemu rumput laut enak di sebelah sana, itu makanan kesukaanmu bukan? Mari kita pergi kesana, dan lupakan Kepiting sialan itu yang tidak tahu diri”

Kura-kura dan temannya segera menuju tempat rumput laut itu. Saat kura-kura sedang asyik memakan rumput laut, ia melihat Kepiting yang ia tolong dibawa oleh seorang manusia.

“Kura-kura tolong aku lagi, aku mohon. Aku akan dimasak oleh manusia ini” kata kepiting

“Teman, kasihan sekali kepiting itu. Dia yang aku tolong tadi. Kita bantu lepaskan dia dari manusia itu yuk.”

Teman kura-kura yang sudah sangat kesal dengan sikap temannya yang terlalu baik pun berkata “Kamu mau disakiti oleh kepiting itu lagi? sudah biarkan saja ia matang dan disantap oleh manusia itu, itulah akibat dia mencapit kakimu”

“Tapi temanku………”

“Tapi apa?”

“Ia terlihat menyedihkan sekali” kata kura-kura meyakinkan temannya

“Kenapa kamu selalu memikirkan hewan lain? Apa dia peduli denganmu? Tidak kan? Sayangilah dirimu sendiri teman, tidak semua harus kita tolong. Jika kita saja masih butuh pertolongan kenapa harus menolong yang lain, itu akan membuat hidupmu semakin berat”

Kura-kura terlihat acuh dengan ucapan temannya dan tetap menatap Kepiting dengan rasa kasihan. Melihat kura-kura seperti itu, temannya pun semakin jengkel.

“Hei, kamu masih saja menatapnya dengan iba. Hidup memang seperti itu teman, kelihatannya seperti tidak adil tapi sebenarnya itu sudah sangat adil. Jadi makanlah rumput laut yang lezat ini. Ini makanan kesukaanmu, harusnya kamu memakannya dengan hati yang gembira. Jadi hiraukan saja Kepiting itu. Oke?”.

“Baiklah teman. Kamu benar juga. Mari kita habiskan rumput laut ini”

“Nah gitu dong, kamu juga berhak merasakan bahagia kura-kura”

“Kamu juga kura-kura, Teman”

“Panggil saja aku putri duyung. Biar pembaca menghayal aku sosok yang cantik”

“Hahaha ada-ada saja, putri duyung ini”

“Yaa bagus haha, sudah kita lanjut makan saja”

NYAM NYAM NYAM NYAM


Cerpen Karangan: Etik Septi Virgianthi

Senin, 21 November 2022

Cerpen "Kopi Tanpa Gula"

                      KOPI TANPA GULA

Dari mana harus aku mulai, jika semua terasa pahit. Adakah yang masih ingin tahu sebuah rasa yang sudah jelas ini pahit?. Adakah yang akan terus mencoba meminum sampai habis padahal sudah jelas ini sangat pahit?. Masihkah ada orang yang bertahan sampai tetes terakhir yang begitu pahit?. Jawabannya ‘Ya, ada’. Itu aku yang sangat menyukai kopi tanpa gula.

Aku yang selalu dianggap aneh karena menyukai hal yang tidak semua orang suka. Aku lebih memilih menikmati pahitnya kopi daripada manisnya teh. Setiap kali aku meminum kopi ku, orang disekitarku pasti bertanya ‘Bagaimana rasanya? Pahit sekali bukan?’ aku hanya menjawab dengan senyuman. Rasa pahit yang sudah aku cicip selama bertahun-tahun sudah terasa hambar buatku. Lidahku sudah sangat bersahabat dengan rasa itu.

Tidak satu pun orang yang paham, kenapa aku sangat menikmati kopi ini. Mereka hanya tahu aku orang yang tak memiliki selera rasa yang baik. Karena itu, aku merasa aku tidak pantas untuk memiliki seorang teman. Aku takut, mereka tidak menerima kalau aku menyukai kopi tanpa gula. Setiap hari aku habiskan dengan kesendirian. Akankah ada yang mengerti bahwa ini hanya sebuah selera?.

Aku masih sama dengan kalian. Seorang manusia yang juga butuh teman untuk berbagi rasa suka dan duka. Aku tidak sekuat itu. Aku hanya membohongi diriku bahwa rasa kopi tanpa gula itu nikmat. Aku memilih kopi karena aku sudah lelah dengan rasa manis yang membuat tubuhku melemah. Aku sebenarnya sudah muak dengan kepahitan ini, tapi aku takut apakah masih ada rasa manis yang tidak membuat tenggorokanku sakit?. Beritahu aku.

Sampai saat ini aku masih saja termenung di sebuah taman kota, tentunya hanya ditemani secangkir kopi. Aku perhatikan sekitar, semuanya nampak bahagia. Disitu aku merasa kopi ku mulai terasa manis. Hanya dengan melihat seorang tertawa riang sudah cukup buatku. Lalu tiba-tiba, orang tak dikenal menghampiriku. Ia bertanya.

“Boleh aku ikut menikmati kopi tanpa gula ini, agar kamu tidak sendirian merasakan pahit ini?”, kemudian aku jawab “Boleh”. Setelah ia meminum kopi ku, kami pun saling menertawakan rasa pahit ini. Hahaha. Sepertinya ini bukan kopi, katanya. Aku hanya mengangguk pelan “Iya, ini bukan tentang kopi tanpa gula”.

Cerpen Karangan: Etik Septi Virgianthi

Minggu, 25 September 2022

Cerpen "Aku, Kaktus dan Lidah Buaya"

         AKU, KAKTUS DAN LIDAH BUAYA

Langit mulai meredupkan cahayanya, pertanda hari menjelang malam. Aku masih saja terdiam di belakang halaman rumah memandangi kaktus mungil yang tertanam dalam pot. Tanpa sadar, senyumku mulai terukir saat aku melihat kaktus itu. Cantik. Sangat cantik.

Vera : “Siapa cantik? Aku ya Raka?” (sambil tersenyum lebar)

Raka : “Eh, sejak kapan kamu disini? Main masuk rumah orang aja” (kataku dengan heran)

Vera : “Habisnya kamu udah kayak orang gila senyum-senyum sendiri di depan kaktus” (tertawa riang)

Vera adalah tetanggaku dan sekaligus teman sekolahku di SMA Bumi Nasional. Kami saat ini merupakan siswa kelas XII IPS 1. Entah kenapa, Vera tiba-tiba datang ke rumahku dan membuatku kaget dengan tingkahnya.

Raka : “Kamu ngapain jam segini ke rumahku Ver?” (tanyaku bingung)

Vera : “Besok pagi kan jadwal olahraga, aku bareng kamu ya Ka berangkatnya, soalnya motorku tadi mesinnya ada yang rusak, besok sore baru selesai diperbaiki motornya. Boleh ya?” (dengan wajah memelas)

Raka : “Ya boleh, dah sana pergi” (kataku dengan sinis)

Vera : “Dih, galak amat sih kamu Ka. Btw, kaktusnya lucu. Kasih aku boleh Ka? Hehe”

Raka : “Enak aja, ini pemberian dari mantan terindahku” (sambil memegang kaktus dengan erat)

Vera : “Oh, dari Cia adik kelas XI IPA 2?”

Raka : “Iya, siapa lagi mantanku? cuma Cia doang”

Vera : “Tapi dia kan udah punya pacar sekarang Ka, si Dion teman sekelasnya. Cocok lagi mereka sama-sama dari orang kaya. Udah, lupain aja Cia”

Raka : “Gak bisa Vera, aku udah 1 tahun sama dia”

Vera : “Sini makanya kasih aku aja kaktusnya, biar kamu cepat move on Raka” (sambil merebut kaktus dari genggaman Raka)

Raka : “Ver, please bawa sini” (mengambil kaktus kembali dari genggaman Vera)

Karena rebutan kaktus dengan Vera, tanganku tidak sengaja kena duri kaktusnya.

Raka : “Aaaaaa…, tuh kan Ver jariku ketusuk duri kaktus” (kataku dengan marah)

Vera : “Aduh maaf Raka, sini aku obatin pakai lidah buaya” (memetik lidah buaya yang ada di halaman rumah Raka dan mengoleskan ke jari Raka yang ketusuk duri)

Vera : “Perih gak?” (sambil meniup-niup jari Raka)

Raka : “Enggak terlalu, luka kecil jugaan. Dah, pulang aja Ver”

Vera : “Iya maaf, sekarang aku pulang. Besok jangan lupa ya. Bareng berangkatnya?”

Raka : “Iya-iya Vera” (dengan wajah jengkel)

Keesokan harinya aku dan Vera sudah tiba di lapangan sekolah untuk bersiap melaksanakan pelajaran olahraga. Aku dan teman-teman yang lain segera melakukan pemanasan ringan dari kepala hingga kaki. Setelah pemanasan selesai, kami diminta guru untuk lari keliling lapangan sebanyak 5 kali putaran. Saat lari yang ke 4 putaran, tiba-tiba saja “Bruuukkkk” ada seseorang yang terjatuh dan pingsan. Semua teman-teman yang lain mencoba menolong dan mendekatinya. Saat aku melihat lebih dekat, ternyata seorang yang pingsan itu Vera, tetanggaku. Segeralah semuanya membantu membawa Vera ke ruang UKS.

Pelajaran olahraga usai, aku mencoba melihat keadaan Vera di ruang UKS.

Raka : “Vera, kamu udah mendingan?” (tanyaku khawatir)

Vera : “Udah Ka, cuma masih pusing sedikit” (sambil memegang dahi)

Raka : “Kamu kok bisa pingsan gitu?”

Vera : “Kayaknya gara-gara kemarin aku begadang nyelesain PR matematikanya Ka, ini udah gak apa sih nanti aku bisa lanjut ngikutin pelajaran lagi”

Raka : “Benar udah gak apa? Ini aku bawa lidah buaya siapa tau kepalamu cepat sembuh”

Vera : “Hahahaa mana bisa lidah buaya nyembuhin kepala pusing, terus ini lidah buaya kamu dapat dari mana Raka?”

Raka : “Kemarin aja kamu nyembuhin luka ku pakai lidah buaya, berarti bisa aja dong nyembuhin kamu juga haha. Ini aku ambil di halaman sekolah Ver” (mencoba menghibur Vera yang sedang lemas)

Vera : “Ada ada aja kamu Ka, awas dimarahin kepala sekolah nanti”

Raka : “Hehe iya nanti aku taruh lagi lidah buayanya ke halaman sekolah”

Aku dan Vera pun kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran berikutnya. Setelah aku pikir-pikir saat Vera tertawa dia terlihat manis juga. Eh, kok aku jadi mikir gini sih. Aduh, aneh banget. “Teeettt” bel sekolah berbunyi tanda jam pelajaran telah berakhir dan waktunya pulang.

Raka : “Kamu masih pusing Ver?”

Vera : “Masih Ka, mana tadi ada pelajaran matematika nambah pusing aku”

Raka : “Kalau gitu nanti kita mampir beli obat sakit kepala dulu buat kamu ya Ver?”

Vera : “Ih kemasukan setan apa kamu Ka, berubah jadi sok baik gini haha”

Raka : “Bawel, tak tinggal kalau gitu”

Vera : “Eh, jangan dong”

Kami pun pulang bersama dengan naik sepeda motor scoopy ku yang berwarna merah. Sesampainya aku di apotek, segera aku membelikan obat sakit kepala untuk Vera.

Raka : “Mbak, ada obat untuk sakit kepala?”

Mbak kasir : “Maaf kak, kita gak jual obat”

Raka : “Maksudnya Mbak?”

Mbak kasir : “Ini Pet Shop kak, apoteknya disebelah”

Raka : “Loh bilang dong mbak dari tadi”

Mbak kasir : “Lah siapa suruh asal masuk aja”

Raka : “Hehe, maaf mbak. Saya panik liat teman saya yang lagi pusing kepalanya”

Mbak kasir : “Kayaknya kakak juga perlu obat tuh wkwk, jangan sampai lupa jalan pulang ya kak”

Raka : “Iya mbak”

Setelah aku membeli obat di apotek, langsung saja ku berikan obatnya ke Vera.

Raka : “Ini Ver obatnya”

Vera : “Makasih ya Raka” (lalu tersenyum)

Ada rasa berbeda saat aku melihat Vera saat itu. Aku mulai senang dia tersenyum kepadaku. Senyum manis dari bibirnya yang tipis, selalu terbayang di otakku dikala aku mulai memejamkan mata ku dan terbaring di atas kasurku yang empuk. Sepertinya aku mulai menyukai tetanggaku, gadis yang menyembuhkan luka di jari ku dengan Lidah Buaya.


Cerpen Karangan: Etik Septi Virgianthi

Minggu, 04 September 2022

Cerpen "Makan Tuh Cinta"

                          MAKAN TUH CINTA

14 Februari 2022 hari dimana setiap orang dapat mengekspresikan rasa sayangnya kepada orang yang mereka cinta. Begitu pun dengan ku saat ini, hari ini aku ingin memberikan kue rasa red velvet pada cowok yang sedang dekat dengan ku. Kami belum jadian tapi dia selalu menemani aku saat suka maupun duka. Dia selalu memberiku dukungan saat aku mulai lelah mencari pekerjaan. Aku sempat ikut tes CPNS pada tahun 2021 dan dia pernah menemaniku belajar sampai jam 3 dini hari lewat aplikasi WhatsApp. Tapi sayangnya aku tidak berhasil lanjut ke tes berikutnya, aku mulai down lagi, tapi dia selalu membuatku percaya bahwa nanti pasti aku dapat pekerjaan yang lebih baik. Dia benar, di bulan Desember 2021 aku akhirnya mendapat pekerjaan.

“Selamat pagi Dimas, selamat hari valentine yaa. Hari ini kamu kerja shift apa?” pesan ku pagi ini ke Dimas lewat aplikasi WhatsApp.

“Pagi juga Ranti, met valentine juga :* Aku kerja shift pagi nih hari ini, kenapa?” balas Dimas kepada ku.

“Nanti pulang kerja mampir ke rumah ku sebentar yaa, aku mau ngasik kamu sesuatu hehe”

“Apa tuh? Oke Ran, nanti aku chat kalau aku udah depan rumahmu ya”

“Adadeh, Oke Dimas sampai jumpa nanti”

Aku dan Dimas sudah dekat 8 bulan, bisa dibilang pendekatan kami cukup lama. Entah kenapa Dimas tidak menembakku sampai sekarang. Apa dia hanya ingin main-main saja ya denganku? heemmm. “Ting” ponselku berbunyi. Ada pesan dari Dimas masuk.

“Ranti, aku sudah di depan rumahmu”

“Aku ke depan sekarang, Dim”

Sesampainya aku di depan rumah, segera aku memberikan kue rasa Red Velvet yang penuh cinta itu kepada Dimas.

“Dimas, ini buat kamu 😊”

“Wow kue, pasti enak nih. Makasi Ranti”

“Sama-sama. gimana kerjanya hari ini?”

“Lumayan capek Ran, kantorku besok ulang tahun terus lagi ngadain Lomba game Mobile Legend aku disuruh ikut serta, habis ini aku mau ke rumah teman buat latihan. Aku sebentar aja ya Ran disini”

“Oh gitu, Emmmm.. okdedeh. Semangat ya Dim”

“Makasi Ranti, Daaaaa”

Setelah itu, aku terus melihat ponsel berharap mendapat pesan dari Dimas tapi tak kunjung muncul notif. Aku pikir mungkin dia lagi sibuk sekali jadi aku tidak ingin mengganggunya. Aku fokuskan diriku pada kerjaan yang sedang numpuk.

3 hari kemudian Dimas baru mengabari aku.

“Hai Ran, maaf baru ngabarin. Aku kemarin-kemarin sibuk banget nih di kantor. Oh iya, kue yang kamu kasih enak banget sumpah, bikin nagih. Kerjaan kamu gimana? Ada kendala?”

“Wah senang banget ternyata kuenya enak yaa. Aku pusing banget nih Dim, banyak kerjaan yang belum aku paham. Kamu gimana menang Lomba?”

“Pelan-pelan aja nanti juga kamu kuasai kerjaannya, semangat ya Ranti! Kalau urusan Lomba, aku kalah Ran wkwk”

“Wkwk anda kurang beruntung ya, gak apa Dim”

“Iya nih, tapi aku beruntung bisa kenal kamu Ran”

“Wuu, bisa aja kamu Dim”

Selemah itu aku dengan gombalan Dimas, kata-katanya selalu buat hatiku melayang. Sepertinya aku sudah sangat nyaman dengan Dimas. Aku mulai merasakan rindu saat dia tidak ada kabar. Rasanya hampa jika belum mendapat notif darinya.

Saat aku mulai rindu, aku mencoba lihat foto-fotonya di Instagram untuk melepas rasa rindu ku. Betapa terkejutnya aku, ada foto Dimas dengan cewek di bagian foto tag-nya. Foto itu ditandai di sebuah Villa. Langsung saja aku bertanya ke Dimas siapa cewek itu?.

“Dimas, ini siapa? Pacar kamu?” (aku mengirim screenshoot foto cewek itu)

“Bentar ya Ranti aku lagi kerja, nanti aku jelasin pas aku pulang kerja ya”

“Kamu pulang jam berapa?”

“Jam 1 malam, tunggu ya”

“Oke aku tungguin, nanti langsung jelasin ya sebenarnya dia siapa?”

Jam menunjukkan pukul 02.00, Dimas tidak membalas pesanku dan memberikan penjelasan apapun. Aku sudah sangat mengantuk, dan ingin cepat tidur.

“Dim, aku tidur duluan kalau gitu ya. Nanti pagi inget jelasin siapa cewek itu”

Aku pun tertidur. Karena tidur ku tidak nyenyak, aku terbangun di jam 04.00. lalu, melihat ponselku ada pesan dari Dimas.

“Yah kok tidur sih” (pesan Dimas di jam 03.00)

“Kamu kenapa sih Dim? Kok gini? Apa susahnya sih jelasin yang sebenarnya” (aku membalas pesan Dimas di jam 04.00) lalu aku kembali tertidur karena hari ini aku harus kerja pagi.

Pagi hari chat ku terlihat belum di baca oleh Dimas. Aku mencoba mencari tahu sendiri siapa cewek itu dengan stalk akun Instagram cewek itu.  Ternyata cewek itu teman kantornya. Mereka terlihat sangat dekat di foto, sering jalan bareng juga bahkan liburan selalu ke Villa. Aku makin curiga cewek ini memang pacarnya. Jadi aku? SELINGKUHANNYA GITU?

“Ran, maaf aku udah jadi cowok brengsek buat kamu. Cewek itu cuma sahabatku kok. Aku sama dia gak ada apa-apa. Aku ngilang waktu ini karena aku gak enak sama kamu, kamu sering minta jalan bareng aku tapi aku selalu gak bisa malah aku jalan sama sahabatku karena itu aku gak berani kasik tau tentang sahabatku ini, Ran” (penjelasan Dimas padaku lewat WhatsApp)

“Udah Dim, kita gak usah saling kenal lagi” (lalu aku langsung blok kontak Dimas)

Nyesek banget rasanya. SAHABAT KATANYA. IYA DEH SAHABAT. Aku ingin teriak rasanya “AAAAAAAA DIMAS BRENGSEK!!! MUKA LU KAYAK TAI SOK GANTENG BANGET”. Eh sebentar, kok bau tai yaa?. Lalu aku melihat ke arah kaki ku, “oh tidaakk, aku nginjek tai guys”. Ah sial banget aku hari ini. Nangis sampai banjir. Selesai.


Cerpen Karangan: Etik Septi Virgianthi

Kamis, 18 Agustus 2022

Cerpen "Sepi Sendiri"

                            SEPI SENDIRI

Semakin beranjak dewasa, sunyi adalah teman terbaik yang selalu menemani hari-hariku. Entah sampai kapan kesunyian ini berakhir. Apa aku punya kesempatan untuk menikmati hidup kembali? atau aku rasa aku hanya belum bisa menyadari apa yang membuatku bahagia. Aku mulai khawatir perihal karir dan jodoh ku. Disaat teman-temanku sudah berkeluarga dan memiliki karir yang bagus. Aku disini masih memikirkan jumlah semut yang ada di rumahku. Haha konyol sekali bukan. Semut saja mempunyai banyak teman sedangkan aku hanya sendirian. Sungguh menyedihkan.

Mengenai jodoh pun aku bingung bagaimana kami akan bertemu. Apakah disebuah pesta? lalu, sepatuku tidak sengaja terlepas satu dan dia datang untuk mengembalikan sepatuku lalu kami saling cinta dan menikah. Kami pun hidup bahagia. Tamat. Oh tidak semudah itu kawan-kawan ku. Walaupun di masa sekarang gampang untuk mencari jodoh hanya bermodalkan HP. Tapi, di dunia tipu-tipu ini kita harus banyak waspada ya. Masih banyak orang-orang menyalahgunakan sosial media untuk kesenangan pribadinya saja. Ada yang foto profilnya berseragam tentara eh ternyata hanya pengangguran yang ingin memanfaatkan uang kamu, ada juga yang sangean, selalu minta pap yang aneh-aneh, kamu dimanfaatkan hanya untuk memuaskan hawa nafsunya saja, jangan terbodohi yaa, itu bukan cinta. Ada yang hanya memanfaatkan perasaanmu, chat tiap hari, selalu dikasih perhatian tapi kalau dia bosan langsung pergi gitu saja. Huft. Ya begitulah dunia. Seakan-akan sendiri itu lebih baik.

Sampai aku berpikir, apa fungsinya aku di dunia ini? Aku dilahirkan di dunia hanya untuk pajangan kah? Tak seorang pun yang tahu keberadaanku, aku sedang apa. Lagi sibuk apa?. Kabarku bagaimana?. Tidak seorang pun yang peduli. Bahkan sampai orang tua ku saja tidak peduli aku mendapat Juara 1 Lomba makan krupuk saat 17 Agustus kemarin. Hehe, jangan serius-serius gitu dong bacanya. Biar gak tegang aja ya, sudah jomblo tapi banyak pikiran.

Aku mulai mencari apa tujuan hidupku di dunia. Apakah aku ingin uang yang berlimpah? jalan-jalan ke luar negeri? mempunyai rumah dilapisi emas? menjadi Super hero? mempunyai pasangan yang penyayang? atau mengejar Pendidikan sampai bergelar profesor?. Aku terus merenung apa sebenarnya tujuanku ada di dunia. Sampai akhirnya aku menemukan titik terang dari keresahanku mengenai rasa sepi ku ini yaitu “TIDUR”.


Cerpen Karangan: Etik Septi Virgianthi