ANGKASA DAN PERTIWI
Bagi perempuan yang selalu gagal dalam percintaannya, dia pasti berharap pria yang bersamanya saat ini adalah pria yang akan menjadi suaminya kelak. Sama halnya dengan pemikiran Pertiwi saat ini, diusianya yang telah menginjak 25 tahun bukan waktunya lagi untuk Pertiwi bermain-main dalam hubungan percintaan. Dia sangat optimis pada kekasihnya yang ditemuinya 2 tahun lalu. Namanya Angkasa. Pria yang umurnya lebih muda 3 tahun dengan Pertiwi.
Awal mereka bertemu di sebuah Toko Roti dengan merk Delicious Bakery milik keluarganya Angkasa, dimana saat itu Angkasa diminta oleh Ibunya untuk membantu melayani customer yang ingin membeli Roti. Pada saat itu, Pertiwi hendak membeli Roti kesukaannya yaitu Roti abon yang didalamnya berisi sosis ayam. Pertama kali Angkasa melihat Pertiwi, ia telah jatuh hati pada pandangan pertama. Pertiwi yang saat itu penampilannya hanya memakai kemeja berwarna pink dengan bawahan rok hitam tanpa sentuhan make up yang mencolok berhasil membuat Angkasa terpana. Kesederhanaan dari diri Pertiwi membuat Angkasa tertarik untuk mengenal Pertiwi lebih jauh.
Pertiwi adalah seorang pegawai kantoran di perusahaan jasa keuangan yang berada tidak jauh di dekat Delicious Bakery milik keluarga Angkasa. Pertiwi setiap pagi selalu mampir ke Delicious Bakery hanya untuk membeli roti abon kesukaannya, sehigga membuat Angkasa semakin penasaran dan memberanikan diri untuk basa-basi menanyakan nama, pekerjaan dan tempat kerja Pertiwi, tidak lupa juga ia meminta nomor handphone Pertiwi.
“Angkasa, tepat hari ini hubungan kita sudah 2 tahun, aku masih ingat setiap aku datang ke tokomu, kamu sudah membungkuskan roti abon untukku, padahal aku belum memesannya.” ucap Pertiwi sambil bersandar dibahu Angkasa.
“Aku tahu kamu pasti akan membeli itu, bahkan aku selalu menyisihkan roti abon untukmu sayang.” ucap Angkasa sambil mengelus rambut Pertiwi.
“Terima kasih sayang sampai saat ini kamu masih tetap bersamaku, i love you.” ucap Pertiwi lalu mencium pipi Angkasa.
“I love you too, sayang.” ucap Angkasa dengan membalas kecupan ke kening Pertiwi.
“Jadi, sampai kapan kita sembunyikan hubungan ini dari keluargamu.” lanjut Pertiwi.
“Sabar ya sayang, pasti aku akan kenalkan kamu ke mereka.” balas Angkasa.
Hubungan Angkasa dan Pertiwi memang masih backstreet dari keluarga Angkasa, orang tua Angkasa menginginkan anaknya untuk fokus kerja membantu usaha Toko Roti (Delicious Bakery) bahkan meminta Angkasa untuk ikut pelatihan membuat roti ke Luar Negeri. Pertiwi pun memaklumi keputusan yang diambil Angkasa dan akan selalu mendukung apa pun yang Angkasa lakukan.
Angkasa sebenarnya tidak menyukai pekerjaan yang berbau masak-memasak karena baginya pekerjaan itu lebih cocok dilakukan oleh seorang wanita, Angkasa lebih menyukai bermain musik drum bersama band yang ia bentuk saat SMA. Akan tetapi, orang tua Angkasa tidak menyukai hobi drumnya itu. Pertiwi pun mengetahui hal itu, karena setiap kali Angkasa selesai membantu Ibunya menjaga toko, ia mengeluhkan hal itu kepada Pertiwi lewat telepon. Pertiwi mencoba memberinya saran agar orang tua Angkasa bisa mendukung hobinya tersebut, tetapi Angkasa selalu membantah saran dari Pertiwi ia selalu berpikir bahwa pilihan orang tua terhadapnya memang itu yang terbaik.
Pertiwi yang merupakan seorang yang tahu apa yang disuka dan selalu memperjuangkan untuk mendapatkan apa yang disuka sangat berbanding terbalik dengan Angkasa yang selalu menurut dengan apa yang diminta oleh orang tuanya demi membuat orang tuanya bahagia.
Malam minggu, mereka kembali makan bersama di sebuah mall tengah kota. Mereka pun kembali berbincang mengenai bagaimana kelanjutan hubungan mereka kedepan.
“Sayang, bulan depan aku sudah harus pergi ke Perancis untuk belajar buat roti, kamu tidak apa?.” ucap Angkasa.
“Berapa lama sayang? aku belum siap kita LDR” jawab Pertiwi.
“Hanya 6 bulan yang, sebelum aku pergi, kamu akan ku kenalkan ke orang tua ku. Agar setelah aku pulang nanti, kita bisa rencanakan pernikahan kita.” ucap Angkasa berusaha menenangkan kekhawatiran Pertiwi.
“Janji?” ucap Pertiwi penuh harap.
“Janji sayang, besok aku bawa kamu ke rumah” tegas Angkasa.
Keesokan harinya, Angkasa menempati janjinya untuk membawa Pertiwi ke rumah untuk meminta restu mengenai hubungan mereka.
“Bapak, Ibu. Ini Pertiwi pacar Angkasa. Kami ingin minta restu setelah Angkasa selesai pelatihan di Perancis, Angkasa mau menikah dengan Pertiwi, Pak Bu.” ucap Angkasa sambil menggenggam tangan Pertiwi.
Bapak dan Ibunya Angkasa pun terkejut dengan pernyataan anaknya, lalu Ibu Angkasa berdiri dan memberikan penolakan.
“TIDAK, Ibu tidak setuju kamu dengan Pertiwi. Ibu bilang fokus dulu dengan pelatihanmu itu, nanti urusan pasangan Ibu dan Bapak akan carikan kamu.” ucap Ibu Angkasa dengan lantang.
“Tapi maaf Tante, kami berdua sudah saling cinta. Saya tidak akan mengganggu Angkasa saat pelatihannya nanti Tante.” ucap Pertiwi.
“Kalian putus saja biar nanti Angkasa bisa fokus dengan pelatihannya.” sambung Ibu Angkasa.
“Bapak setuju dengan perkataan Ibumu nak.” ucap Bapak Angkasa.
Angkasa tidak bisa berkata-kata apalagi. Ia langsung menarik tangan Pertiwi untuk ikut pergi dari Rumahnya.
“Sayang, kamu harus yakinkan Bapak dan Ibu kalau kita bisa bersama. Ayo. Kita coba lagi” ucap Pertiwi.
“Gak bisa yang, kita sampai sini dulu ya?” ucap Angkasa dengan pasrah.
“Maksud kamu?” ucap Pertiwi yang mulai meneteskan air matanya.
“Kita putus saja, mungkin ini yang terbaik untuk hubungan kita wik” ucap Angkasa.
“Enggak sayang, kita masih bisa yakinin orang tua mu, aku yakin kita bisa sa.” ucap Pertiwi yang mencoba meyakinkan Angkasa.
“Mau gimana lagi wik? Mungkin memang benar aku harus fokus ke mimpi ku dulu ke Perancis wik, kamu mengerti kan?” ucap Angkasa.
“MIMPI? MIMPIMU atau MIMPI ORANG TUAMU SA?” ucap Pertiwi penuh emosi.
Angkasa hanya terdiam.
“Mau sampai kapan sa, kamu harus mengikuti kata orang tuamu? Kamu gak mikir kebahagiaan dirimu sendiri hah?” lanjut Pertiwi.
“Wik, itu orang tua ku sampai kapan pun mereka orang tua ku wik, kalau orang tua ku bahagia, aku juga bahagia. Ini demi kebaikan kita wik” balas Angkasa.
“Iya, aku paham. Terus, gimana dengan kita? Kamu bahagia kan sama aku?” ucap Pertiwi dengan tangis.
“Aku bahagia wik bisa bersama kamu, aku bahagia. Aku sayang kamu wik, tapi aku harus apa?. Mungkin ini yang terbaik buat hubungan kita wik.” ucap Angkasa sambil memeluk Pertiwi.
“Aku kecewa sa, kalau itu mau mu. Oke. Kita putus.” ucap Pertiwi lalu pergi meninggalkan Angkasa.
“Wiikk, aarrrgghh...” ucap Angkasa sambil berteriak.
Mereka akhirnya memilih untuk berpisah. Angkasa tak mampu memperjuangkan cintanya dengan Pertiwi. Baginya berbakti kepada orang tua adalah hal utama walau harus merelekan cintanya. Lalu, bagaimana dengan Pertiwi? apa itu adil buatnya? cinta yang telah mereka bangun sia-sia hanya karena tidak mendapatkan restu dari orang tua Angkasa. Cinta yang harus diperjuangkan bersama, nyatanya tak dapat dimiliki selamanya. Bagai Langit dan Bumi, begitu pun dengan kisah Angkasa dan Pertiwi yang memiliki karakter yang berbeda dan tidak bisa bersatu.
Cerpen Karangan : Etik Septi Virgianthi